Azab yang akan dialami oleh orang-orang kafir yang mereka cemoohkan itu,
menurut ayat 8, akan terjadi pada hari ketika langit yang sehari-hari
terlihat demikian kokoh menjadi seperti luluhan perak atau kotoran
minyak [8].
Gunung-gunung yang demikian berat dan kuat
menancapkan bumi sehingga tidak oleng menjadi seperti bulu atau kapas
yang beterbangan, yakni setelah ia hancur berkeping-keping [9].
Ketika
itu tidak ada seorang teman akrab pun, apalagi yang tidak akrab,
menanyakan ihwal temannya karena mencekamnya situasi dan prihatinnya
setiap orang menghadapi nasibnya [10].
Jangan duga bahwa mereka
tidak menanyakan, karena mereka tidak saling melihat. Bukan! Mereka,
menurut ayat 11, saling melihat, tetapi semua sadar bahwa ketika itu
tidak berguna lagi bantuan teman dan kerabat. Pendurhaka, baik dia
Muslim maupun bukan, ingin jika seandainya dia dapat menebus dirinya
dari azab yang terjadi hari itu dengan menyerahkan semua anak-anaknya
[11], juga istri yang selalu menemaninya, serta saudaranya yang
merupakan darah dagingnya [12], bahkan termasuk juga kerabatnya yang
dalam kehidupan dunia senantiasa melindunginya [13].
Juga siapa
pun yang berada di bumi seluruhnya, baik dia kenal maupun tidak. Itu
semua, kalau bisa dia jadikan tebusan, maka dia akan menjadikannya
tebusan agar dapat menyelamatkannya [14].
Ayat 15 menafikan harapan si pendurhaka, bahkan menghardiknya dengan menyatakan: "Sekali-kali tidak dapat dan tidak akan ada tebusan. Sungguh neraka di mana mereka disiksa adalah api murni yang bergejolak" [15].
"Mengelupaskan kulit kepala, bahkan semua bagian kulith tubuh," [16].
Api
neraka atau penjaga-penjaganya senantiasa memanggil orang yang
membelakangi iman dan kebenaran dan yang berpaling dari ajakan Rasul
[17], juga yang mengumpulkan harta benda dan apa saja yang dapat
dikumpulkannya tanpa menghiraukan hukum dan ketentuan Allah swt, lalu
menyimpan apa yang dikumpulkannya itu di dalam satu wadah, yakni enggan
menafkahkannya di jalan Allah swt [18].
Inti sari kandungan ayat 19-28
Ayat-ayat
yang lalu menggambarkan keberpalingan manusia yang durhaka dari
kebenaran. Ayat-ayat berikut menggambarkan sebab yang mengantar mereka
ke sana. Ayat 19 menyatakan: "Sesungguhnya jenis manusia diciptakan bersifat gelisah dan rakus" [19].
Ini
tecermin pada sikapnya yang apabila ia ditimpa— walau
sedikit—kesusahan, ia sangat berkeluh kesah [20], dan apabila ia
mendapat kebaikan, seperti limpahan harta atau rezeki lainnya, ia amat
kikir [21], kecuali mereka yang melaksanakan shalat [22], Yakni yang
senantiasa melakukannya pada waktunya tanpa meninggalkan satu shalat pun
[23].
Juga orang-orang yang dalam harta mereka ada bagian
tertentu yang mereka peruntukan bagi orang-orang yang butuh, baik berupa
zakat maupun sedekah [24], baik yang butuh dan meminta, maupun yang
butuh tetapi enggan dan malu meminta [25].
Dan juga orang-orang
yang memercayai keniscayaan Hari Pembalasan sehingga mempersiapkan bekal
untuk itu [26]. Dan orang-orang yang sangat takut terhadap azab Tuhan
mereka [27]. Karena mereka sadar bahwa sungguh azab Tuhan Yang mereka
sembah dan yang selama ini berbuat baik terhadap mereka tidaklah dapat
diangap remeh sehingga merasa aman dari kemungkinan jatuhnya menimpa
mereka [28].
Tafsir Al-Misbah (M. Quroish Shihab)
Selasa, 07 Agustus 2012
Inti Sari Kandungan Surat Al-Ma'arij Ayat 29-35
Setelah ayat-ayat yang lalu menyebut beberapa sifat yang berfungsi
memelihara sekaligus menghiasi jiwa seseorang, ayat-ayat berikut
menyebut beberapa sifat yang intinya adalah menghindarkan keburukan.
Ayat 29 menjanjikan surga dan memuji orang-orang, baik perempuan maupun
lelaki, yang selalu memelihara secara mantap kemaluan mereka [29],
sehingga tidak menyalurkan kebutuhan biologisnya melalui hal dan dengan
cara yang tidak dibenarkan agama, tetapi menyalurkannya melalui
pasangan-pasangan mereka yang sah menurut agama, atau budak wanita yang
dipunyai oleh seorang pria.
Bila demikian, maka sesungguhnya menyalurkan kebutuhan biologis melalui pasangan dan budak mereka itu tidaklah dicela, yakni selama ketentuan agama tidak mereka langgar [30].
Barangsiapa mencari pelampiasan hawa nafsu selain yang disebut itu, maka mereka itulah pelampau-pelampau batas ajaran agama dan moral, sehingga wajar dicela dan disiksa [31].
Selanjutnya, ayat 32 memuji dan menjanjikan surga untuk orang-orang yang selalu memelihara secara mantap amanat-amanat yang dipikulkan atas mereka oleh Allah swt. atau oleh manusia, baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat dan juga memenuhi perjanjian yang mereka jalin dengan pihak lain, yakni menunaikan sebaik mungkin, tidak menyia-nyiakan atau menghilangkan, tidak juga mengurangi atau merusak [32].
Demikian juga orang-orang yang merupakan penegak-penegak kesaksian mereka, yakni yang memikul dan menunaikan secara baik dan sempurna kesaksian mereka tanpa dipengaruhi oleh siapa dan apa pun [33].
Akhirnya, rangkaian sifat-sifat terpuji ini diakhiri oleh ayat 34 dengan menekankan sekali lagi tentang salat dengan menyatakan bahwa yang dijanjikan surga termasuk juga orang-orang yang selalu memelihara shalat-shalat mereka, yakni antara lain memelihara waktunya serta memelihara pula rukun, wajib, dan sunah-sunahnya [34].
Mereka itulah, menurut ayat 35, yang sungguh tinggi kedudukannya, yang akan hidup kekal di surga, lagi dimuliakan oleh Allah swt., para malaikat, dan hamba-hamba Allah swt. yang taat [35].
Bila demikian, maka sesungguhnya menyalurkan kebutuhan biologis melalui pasangan dan budak mereka itu tidaklah dicela, yakni selama ketentuan agama tidak mereka langgar [30].
Barangsiapa mencari pelampiasan hawa nafsu selain yang disebut itu, maka mereka itulah pelampau-pelampau batas ajaran agama dan moral, sehingga wajar dicela dan disiksa [31].
Selanjutnya, ayat 32 memuji dan menjanjikan surga untuk orang-orang yang selalu memelihara secara mantap amanat-amanat yang dipikulkan atas mereka oleh Allah swt. atau oleh manusia, baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat dan juga memenuhi perjanjian yang mereka jalin dengan pihak lain, yakni menunaikan sebaik mungkin, tidak menyia-nyiakan atau menghilangkan, tidak juga mengurangi atau merusak [32].
Demikian juga orang-orang yang merupakan penegak-penegak kesaksian mereka, yakni yang memikul dan menunaikan secara baik dan sempurna kesaksian mereka tanpa dipengaruhi oleh siapa dan apa pun [33].
Akhirnya, rangkaian sifat-sifat terpuji ini diakhiri oleh ayat 34 dengan menekankan sekali lagi tentang salat dengan menyatakan bahwa yang dijanjikan surga termasuk juga orang-orang yang selalu memelihara shalat-shalat mereka, yakni antara lain memelihara waktunya serta memelihara pula rukun, wajib, dan sunah-sunahnya [34].
Mereka itulah, menurut ayat 35, yang sungguh tinggi kedudukannya, yang akan hidup kekal di surga, lagi dimuliakan oleh Allah swt., para malaikat, dan hamba-hamba Allah swt. yang taat [35].
Inti Sari Kandungan Surah Al Ma'arij Ayat 36-39
Orang-orang kafir yang dibicarakan oleh kelompok pertama ayat-ayat surah
ini, sungguh mengherankan keadaan mereka. Sudah sekian banyak
peringatan dan nasihat yang disampaikan, tetapi mereka bergeming. Ayat
36 mengecam mereka dengan menyatakan bahwa: Mengapakah orang-orang kafir
itu bersegera datang secara khusus ke arahmu, wahai Nabi Muhammad
saw?[36].
Mereka datang sambil terus menerus memandangmu dari arah kanan dan dari arah kirimu, dengan berpisah-pisah dan berkelompok-kelompok [37]. Apakah setiap orang dari mereka yang kafir itu tamak dan rakus dimasukkan ke surga yang penuh kenikmatan? [38], karena mestinya yang datang kepadamu dengan sikap demikian tentulah ingin mendengar dan mengikuti tuntunanmu!
Ayat 39 menafikan ketamakan itu dengan menegaskan bahwa: Sekali-kali tidak! Mereka tidak akan masuk surga, karena mereka datang dengan sikap lahiriah yang demikian, namun batin mereka tidak percaya dan itu mereka lakukan untuk tujuan mengejek. Sungguh, lanjut ayat 39, Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui, yakni dari sesuatu yang sangat remeh, memalukan bila disebut di depan umum, jijik bila dilihat, beraroma tidak sedap, maksudnya mani/sperma [39].
Inti Sari Kandungan Surah Al Ma'arij Ayat 40-44
Melalui ayat-ayat berikut, Allah swt menguatkan penegasan-Nya tentang kandungan ayat-ayat yang lalu, dengan bersumpah menunjuk langsung diri-Nya sendiri bahwa: Jika demikian itu halnya, maka Aku/Allah swt. tidak bersumpah87 demi Tuhan Pemelihara dan Pengendali tempat-tempat terbit dan terbenamnya, yakni matahari, bulan, dan bintang; sungguh Kami benar-benar Mahakuasa [40].
Untuk mengganti mereka yang kafir dan munafik dengan orang-orang yang lebih baik dari mereka, atau mengganti kepribadian mereka yang kafir itu dengan menjadikan mereka orang-orang taat, dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun [41].
Maka, wahai Nabi Muhammad saw., biarkanlah mereka tenggelam dalam kebatilan dan bermain-main menghabiskan waktu dengan aktivitas yang tak bermanfaat sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka [42].
Yaitu, hari di mana mereka meminta disegerakannya siksa itu dan bertanya mengolok-olokkannya, keluar dari kubur-kubur masing-masing dengan cepat seakan-akan mereka menuju ke berhala-berhala yang mereka sembah ketika mereka hidup di dunia [43].
Ketika itu pandangan mereka masing-masing khusyu’ tertunduk tanpa mampu mengangkatnya. Mereka diliputi kehinaan. Itulah hari yang sudah sering diancamkan kepada mereka [44], yakni dengan tujuan kiranya mereka mau percaya, tetapi mereka tetap saja mengingkari, bahkan meminta untuk disegerakan datangnya.
Awal surah ini berbicara tentang orang-orang yang memperolok-olokkan keniscayaan Kiamat serta meminta untuk disegerakan kedatangannya. Akhir surah secara tegas mengancam mereka yang durhaka dan mengingkari Kiamat. Demikian bertemu uraian awal surah dan akhirnya. Mahabenar Allah swt. dan Mahaserasi firman-firman-Nya. Wa Allah A‘lam.
Mereka datang sambil terus menerus memandangmu dari arah kanan dan dari arah kirimu, dengan berpisah-pisah dan berkelompok-kelompok [37]. Apakah setiap orang dari mereka yang kafir itu tamak dan rakus dimasukkan ke surga yang penuh kenikmatan? [38], karena mestinya yang datang kepadamu dengan sikap demikian tentulah ingin mendengar dan mengikuti tuntunanmu!
Ayat 39 menafikan ketamakan itu dengan menegaskan bahwa: Sekali-kali tidak! Mereka tidak akan masuk surga, karena mereka datang dengan sikap lahiriah yang demikian, namun batin mereka tidak percaya dan itu mereka lakukan untuk tujuan mengejek. Sungguh, lanjut ayat 39, Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui, yakni dari sesuatu yang sangat remeh, memalukan bila disebut di depan umum, jijik bila dilihat, beraroma tidak sedap, maksudnya mani/sperma [39].
Inti Sari Kandungan Surah Al Ma'arij Ayat 40-44
Melalui ayat-ayat berikut, Allah swt menguatkan penegasan-Nya tentang kandungan ayat-ayat yang lalu, dengan bersumpah menunjuk langsung diri-Nya sendiri bahwa: Jika demikian itu halnya, maka Aku/Allah swt. tidak bersumpah87 demi Tuhan Pemelihara dan Pengendali tempat-tempat terbit dan terbenamnya, yakni matahari, bulan, dan bintang; sungguh Kami benar-benar Mahakuasa [40].
Untuk mengganti mereka yang kafir dan munafik dengan orang-orang yang lebih baik dari mereka, atau mengganti kepribadian mereka yang kafir itu dengan menjadikan mereka orang-orang taat, dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun [41].
Maka, wahai Nabi Muhammad saw., biarkanlah mereka tenggelam dalam kebatilan dan bermain-main menghabiskan waktu dengan aktivitas yang tak bermanfaat sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka [42].
Yaitu, hari di mana mereka meminta disegerakannya siksa itu dan bertanya mengolok-olokkannya, keluar dari kubur-kubur masing-masing dengan cepat seakan-akan mereka menuju ke berhala-berhala yang mereka sembah ketika mereka hidup di dunia [43].
Ketika itu pandangan mereka masing-masing khusyu’ tertunduk tanpa mampu mengangkatnya. Mereka diliputi kehinaan. Itulah hari yang sudah sering diancamkan kepada mereka [44], yakni dengan tujuan kiranya mereka mau percaya, tetapi mereka tetap saja mengingkari, bahkan meminta untuk disegerakan datangnya.
Awal surah ini berbicara tentang orang-orang yang memperolok-olokkan keniscayaan Kiamat serta meminta untuk disegerakan kedatangannya. Akhir surah secara tegas mengancam mereka yang durhaka dan mengingkari Kiamat. Demikian bertemu uraian awal surah dan akhirnya. Mahabenar Allah swt. dan Mahaserasi firman-firman-Nya. Wa Allah A‘lam.
Surah Al Qalam (Pena)
Surah al-Qalam, terdiri dari 52 ayat. Mayoritas ulama berpendapat,
keseluruhan ayatnya Makkiyah, yakni turun sebelum Nabi Muhammad saw
berhijrah ke Madinah. Beberapa riwayat mengecualikan sekian ayat.
Riwayat yang dinisbahkan kepada sahabat Ibnu Abbas ra ini menyatakan
bahwa awal surah ini sampai dengan ayat 16 adalah Makkiyah, lalu ayat 17
sampai dengan ayat 33 Madaniyah, selanjutnya ayat 34 sampai dengan 47
adalah Makkiyah lagi, dan selebihnya adalah Madaniyah lagi.
Namanya yang populer adalah Surah al-Qalam dan juga Surah Nun. Ada juga yang menggabung kedua kata itu sehingga menamainya Surah Nun wa al-Qalam. Kesemua nama itu bersumber dari ayat pertama surah ini.
Banyak riwayat yang menyatakan bahwa awal surah ini merupakan wahyu kedua yang diterima Nabi saw, sesudahnya adalah surah al-Muzzammil, baru kemudian al-Muddatstsir. Sebagian mereka yang berpendapat demikian, menyatakan penafian kegilaan yang ditegaskan oleh ayat 3 surah ini bukanlah karena adanya tuduhan kaum musyrik terhadap Nabi Muhammad saw, tetapi lahir dari perasaan atau rasa takut Nabi Muhammad saw sendiri ketika menerima wahyu pertama. Nah, perasaan itulah yang dinafikan sehingga sangat wajar jika awal surah ini merupakan surah kedua yang beliau terima.
Riwayat yang dinilai lebih kuat adalah yang menyatakan bahwa surah kedua yang diterima Nabi saw adalah surah al- Muddatstsir. Ada juga ulama yang menolak riwayat-riwayat di atas dengan berbagai alasan.
Betapapun dapat diduga keras bahwa surah ini merupakan salah satu surah awal yang diterima Nabi saw dan itu setelah sekian lama beliau berdakwah dan menerima penolakan dari masyarakat Mekkah. Bagi Nabi saw, surah ini menenangkan hati dan menghibur beliau yang dicerca dengan aneka cercaan. Juga menguatkan hati beliau melalui janji Allah swt serta pujian-Nya atas akhlak luhur beliau sambil mengingatkan agar tidak melunakkan sikap menghadapi kaum musyrik Mekkah.
Intisari Kandungan Surah Al-Qalam Ayat 1-7
Akhir surah yang lalu (Al Mulk), satu ayat sebelum menutupnya, berbicara tentang dua kelompok yang bertolak belakang; satu akan dibinasakan Allah swt dan yang lainnya diselamatkan tanpa menyebut sifat-sifat mereka. Pada awal surah ini, setelah bersumpah dengan Nun dan al-Qalam, Allah swt menjelaskan siapa yang meraih keberuntungan dan ganjaran yang tidak putus-putusnya serta siapa pula yang akan menemukan sanksi Allah swt.
Allah swt berfirman: Nun. Demi Qalam, yakni demi pena yang biasa digunakan untuk menulis oleh malaikat atau oleh siapa pun, dan juga demi apa yang mereka tulis [1]. Bukanlah engkau berkat nikmat Tuhan Pemeliharamu, wahai Nabi Muhamad saw, seorang yang mengindap sedikit kegilaan [2]. dan sesungguhnya telah tersedia untukmu secara khusus ganjaran yang besar yang tidak putus-putusnya, atas jerih payah dan kesungguhanmu menyampaikan dan mengajarkan wahyu Ilahi [3]. Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung [4].
Ayat-ayat berikut mengukuhkan kandungan ayat-ayat yang lalu, Ayat 5 menyatakan bahwa: Nanti, dalam waktu yang dekat, engkau wahai Nabi Muhammad saw akan melihat serta mengetahui pula dan mereka orang-orang kafir itu pun akan melihat dan mengetahui pula [5] siapa di antara kamu yang sesat dan gila [6]. Sesungguhnya Tuhan Pemelihara dan Pembimbingmu, wahai Nabi Muhammad saw, Dialah saja Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya serta siapa yang gila dan kacau pikirannya. Allah swt saja Yang Paling Mengetahui al-Muhtadin, yakni orang-orang yang mengikuti dan mengamalkan secara mantap petunjuk Allah swt. [7].
Namanya yang populer adalah Surah al-Qalam dan juga Surah Nun. Ada juga yang menggabung kedua kata itu sehingga menamainya Surah Nun wa al-Qalam. Kesemua nama itu bersumber dari ayat pertama surah ini.
Banyak riwayat yang menyatakan bahwa awal surah ini merupakan wahyu kedua yang diterima Nabi saw, sesudahnya adalah surah al-Muzzammil, baru kemudian al-Muddatstsir. Sebagian mereka yang berpendapat demikian, menyatakan penafian kegilaan yang ditegaskan oleh ayat 3 surah ini bukanlah karena adanya tuduhan kaum musyrik terhadap Nabi Muhammad saw, tetapi lahir dari perasaan atau rasa takut Nabi Muhammad saw sendiri ketika menerima wahyu pertama. Nah, perasaan itulah yang dinafikan sehingga sangat wajar jika awal surah ini merupakan surah kedua yang beliau terima.
Riwayat yang dinilai lebih kuat adalah yang menyatakan bahwa surah kedua yang diterima Nabi saw adalah surah al- Muddatstsir. Ada juga ulama yang menolak riwayat-riwayat di atas dengan berbagai alasan.
Betapapun dapat diduga keras bahwa surah ini merupakan salah satu surah awal yang diterima Nabi saw dan itu setelah sekian lama beliau berdakwah dan menerima penolakan dari masyarakat Mekkah. Bagi Nabi saw, surah ini menenangkan hati dan menghibur beliau yang dicerca dengan aneka cercaan. Juga menguatkan hati beliau melalui janji Allah swt serta pujian-Nya atas akhlak luhur beliau sambil mengingatkan agar tidak melunakkan sikap menghadapi kaum musyrik Mekkah.
Intisari Kandungan Surah Al-Qalam Ayat 1-7
Akhir surah yang lalu (Al Mulk), satu ayat sebelum menutupnya, berbicara tentang dua kelompok yang bertolak belakang; satu akan dibinasakan Allah swt dan yang lainnya diselamatkan tanpa menyebut sifat-sifat mereka. Pada awal surah ini, setelah bersumpah dengan Nun dan al-Qalam, Allah swt menjelaskan siapa yang meraih keberuntungan dan ganjaran yang tidak putus-putusnya serta siapa pula yang akan menemukan sanksi Allah swt.
Allah swt berfirman: Nun. Demi Qalam, yakni demi pena yang biasa digunakan untuk menulis oleh malaikat atau oleh siapa pun, dan juga demi apa yang mereka tulis [1]. Bukanlah engkau berkat nikmat Tuhan Pemeliharamu, wahai Nabi Muhamad saw, seorang yang mengindap sedikit kegilaan [2]. dan sesungguhnya telah tersedia untukmu secara khusus ganjaran yang besar yang tidak putus-putusnya, atas jerih payah dan kesungguhanmu menyampaikan dan mengajarkan wahyu Ilahi [3]. Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung [4].
Ayat-ayat berikut mengukuhkan kandungan ayat-ayat yang lalu, Ayat 5 menyatakan bahwa: Nanti, dalam waktu yang dekat, engkau wahai Nabi Muhammad saw akan melihat serta mengetahui pula dan mereka orang-orang kafir itu pun akan melihat dan mengetahui pula [5] siapa di antara kamu yang sesat dan gila [6]. Sesungguhnya Tuhan Pemelihara dan Pembimbingmu, wahai Nabi Muhammad saw, Dialah saja Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya serta siapa yang gila dan kacau pikirannya. Allah swt saja Yang Paling Mengetahui al-Muhtadin, yakni orang-orang yang mengikuti dan mengamalkan secara mantap petunjuk Allah swt. [7].
Intisari Kandungan Surah Al Qalam Ayat 8-16
Ayat-ayat yang lalu mengukuhkan pernyataan ayat-ayat sebelumnya yang
menegaskan keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad saw, serta keberadaan
beliau dalam bimbingan dan petunjuk Allah swt. Karena itu, ayat-ayat
berikut menegaskan konsekuensi hal di atas dengan menyatakan: “Jika
demikian itu sifat dan keadaanmu, wahai Nabi Muhammad saw, maka
janganlah engkau mengikuti para pengingkar ayat-ayat Allah swt. [8].
Mereka sangat menginginkan atau mereka berangan-angan jika seandainya engkau bersikap lunak terhadap mereka, yakni tidak melarang mereka menyembah berhala atau engkau merestui sebagian dari kedurhakaan mereka, lalu mereka dengan sikap lunakmu itu bersikap lunak (pula) kepadamu [9].
Untuk lebih mengukuhkan larangan tersebut, Allah swt menyifati mereka dengan sifat-sifat buruk sambil mengulangi larangan-Nya dengan berfirman: Dan janganlah engkau ikuti setiap penyumpah, yakni yang sedikit-sedikit selalu bersumpah, lagi berkepribadian hina, yakni tidak berbudi pekerti luhur [10],
Pencela, yakni banyak mencela pihak lain di belakang mereka, Penyebar/Penghambur fitnah guna memecah belah anggota masyarakat [11], lagi sangat gemar menghalangi terciptanya kebaikan, atau sangat kikir, juga pelampau batas lagi pendurhaka, yakni banyak dosa terhadap Allah swt dan sesama manusia [12] dan kasar. Selain itu, yakni yang lebih buruk lagi adalah ia populer/dengan kejahatannya [13].
Sifat-sifat yang disandangnya itu, menurut ayat 14, lahir karena dia adalah seorang yang dikenal serta merasa diri sebagai pemilik banyak harta dan anak-anak yang banyak lagi terpandang oleh masyaakatnya [14].
Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah swt, ia berkata: “Ini adalah dongeng-dongengan orang-orang
dahulu kala” [15]. Sungguh bejat orang ini. Karena itu, ayat 16 memvonisnya bahwa Kami/Allah swt akan menandainya di atas belalainya, yakni hidungnya yang panjang [16].
Intisari Kandungan Surah Al Qalam Ayat 17-33
Ayat-ayat berikut mengingatkan para pendurhaka penduduk Mekkah tentang ujian Allah swt serupa dengan ujian yang dialami oleh pemilik kebun di Yaman, yang kisahnya diuraikan oleh ayat-ayat berikut. Mereka adalah sekelompok pemilik, yakni dua dari tiga orang di antara mereka bersumpah bahwa mereka akan memetik hasil kebunnya di pagi hari, yakni agar fakir miskin tidak melihatnya sekaligus tidak dapat meminta/ mengambilnya [17].
Dalam saat yang sama, mereka juga tidak mengaitkan tekad mereka itu dengan kehendak Allah swt. Mereka tidak berucap: Insya Allah swt, atau kalimat apa pun yang menunjuk keterikatan upaya mereka dengan kehendak Allah [18], maka akibatnya, kebun mereka ditimpa oleh bencana besar yang bersumber dari Allah swt. Bencana itu datang ketika mereka sedang tidur lelap [19].
Akibat bencana itu kebun mereka menjadi seperti abu yang hitam atau pohon yang telah gundul setelah dipetik semua buahnya [20].
Di pagi harinya, sebelum mereka mengetahui apa yang terjadi pada kebun mereka, mereka saling panggil-memanggil [21] agar segera berangkat ke kebun mereka untuk memetiknya [22].
Mereka pun berangkat seraya saling berbisik-bisik dan pesan memesan [23], bahwa: “Jangan biarkan seorang miskin pun memasuki kebun itu” [24]. Demikian mereka berangkat dengan tekad menghalangi orang-orang miskin, padahal mereka mampu menolong orang-orang miskin itu. Dengan kata lain, mereka berangkat dengan niat buruk dan mengira bahwa mereka akan mampu melaksanakan tekad mereka [25].
Tetapi tatkala mereka melihat keadaan kebun mereka jauh berbeda dengan apa yang mereka harapkan, yakni setelah kebun itu ditimpa bencana mereka berkata: “Sungguh kita sesat jalan.” Yakni “Ini bukan arah kebun kita” [26].
Tetapi setelah mereka yakin bahwa memang itu kebun mereka, hanya keadaannya telah berubah akibat bencana yang menimpanya, mereka semua mengakui bahwa: “Kita tidak sesat jalan, bahkan kita dihalangi dari perolehan hasilnya” [27].
Ketika itu juga berkatalah yang di tengah, yakni yang paling moderat dan baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepada kamu, bahwa rencana kamu itu tidaklah terpuji dan bahwa hendaklah atau mengapa kamu tidak bertasbih menyucikan Allah dan berucap Insya Allah?! [28].
Para pemilik kebun tersebut sadar, karena itu mereka berucap: “Mahasuci Tuhan Pemelihara kita, sesungguhnya kita dengan rencana buruk kita adalah orang-orang zalim yang mantap kezalimannya.” Mestinya kita bersyukur dengan hasil panen sambil memberi hak fakir miskin, tetapi justru kita melakukan sebaliknya [29].
Setelah mereka menyadari dampak buruk sikap mereka, maka sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela mencela [30].
Yakni ada yang berkata: “Ini karena saranmu”; yang lain berkata: “Engkau yang mendorong kami”; yang lain lagi berkata: “Memang aku telah menyampaikan”, dan sebagainya dan akhirnya mereka semua mengaku bersalah dan berkata: “Aduhai celakalah kita, sungguh kita adalah orang-orang yang melampaui batas,” yakni dengan bersumpah tidak akan memberi hasil panen kita kepada fakir miskin [31].
“Semoga Tuhan Pemelihara kita memberi kita ganti dengan kebun atau apa saja yang lebih baik daripada dari kebun yang binasa itu; sesungguhnya kita hanya kepada Tuhan Pemelihara dan Pembimbing kita selalu mengharap ampunan dan karunia-Nya [32].
Demikian kisah Pemilik Kebun yang diakhiri dengan pernyataan Allah swt. memperingatkan semua pihak, termasuk kaum musyrik Mekkah bahwa: Seperti itulah siksa duniawi dan sesungguhnya azab akhirat bagi para pembangkang lebih besar daripada siksa duniawi itu. Yakni, dia lebih besar karena siksa akhirat bersumber langsung dari Allah swt., serta tidak berakhir dengan kematian. Jika mereka, siapa pun yang kafir dan durhaka, mengetahui pastilah mereka itu sadar dan patuh kepada Allah swt. dan Rasul [33].
Mereka sangat menginginkan atau mereka berangan-angan jika seandainya engkau bersikap lunak terhadap mereka, yakni tidak melarang mereka menyembah berhala atau engkau merestui sebagian dari kedurhakaan mereka, lalu mereka dengan sikap lunakmu itu bersikap lunak (pula) kepadamu [9].
Untuk lebih mengukuhkan larangan tersebut, Allah swt menyifati mereka dengan sifat-sifat buruk sambil mengulangi larangan-Nya dengan berfirman: Dan janganlah engkau ikuti setiap penyumpah, yakni yang sedikit-sedikit selalu bersumpah, lagi berkepribadian hina, yakni tidak berbudi pekerti luhur [10],
Pencela, yakni banyak mencela pihak lain di belakang mereka, Penyebar/Penghambur fitnah guna memecah belah anggota masyarakat [11], lagi sangat gemar menghalangi terciptanya kebaikan, atau sangat kikir, juga pelampau batas lagi pendurhaka, yakni banyak dosa terhadap Allah swt dan sesama manusia [12] dan kasar. Selain itu, yakni yang lebih buruk lagi adalah ia populer/dengan kejahatannya [13].
Sifat-sifat yang disandangnya itu, menurut ayat 14, lahir karena dia adalah seorang yang dikenal serta merasa diri sebagai pemilik banyak harta dan anak-anak yang banyak lagi terpandang oleh masyaakatnya [14].
Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah swt, ia berkata: “Ini adalah dongeng-dongengan orang-orang
dahulu kala” [15]. Sungguh bejat orang ini. Karena itu, ayat 16 memvonisnya bahwa Kami/Allah swt akan menandainya di atas belalainya, yakni hidungnya yang panjang [16].
Intisari Kandungan Surah Al Qalam Ayat 17-33
Ayat-ayat berikut mengingatkan para pendurhaka penduduk Mekkah tentang ujian Allah swt serupa dengan ujian yang dialami oleh pemilik kebun di Yaman, yang kisahnya diuraikan oleh ayat-ayat berikut. Mereka adalah sekelompok pemilik, yakni dua dari tiga orang di antara mereka bersumpah bahwa mereka akan memetik hasil kebunnya di pagi hari, yakni agar fakir miskin tidak melihatnya sekaligus tidak dapat meminta/ mengambilnya [17].
Dalam saat yang sama, mereka juga tidak mengaitkan tekad mereka itu dengan kehendak Allah swt. Mereka tidak berucap: Insya Allah swt, atau kalimat apa pun yang menunjuk keterikatan upaya mereka dengan kehendak Allah [18], maka akibatnya, kebun mereka ditimpa oleh bencana besar yang bersumber dari Allah swt. Bencana itu datang ketika mereka sedang tidur lelap [19].
Akibat bencana itu kebun mereka menjadi seperti abu yang hitam atau pohon yang telah gundul setelah dipetik semua buahnya [20].
Di pagi harinya, sebelum mereka mengetahui apa yang terjadi pada kebun mereka, mereka saling panggil-memanggil [21] agar segera berangkat ke kebun mereka untuk memetiknya [22].
Mereka pun berangkat seraya saling berbisik-bisik dan pesan memesan [23], bahwa: “Jangan biarkan seorang miskin pun memasuki kebun itu” [24]. Demikian mereka berangkat dengan tekad menghalangi orang-orang miskin, padahal mereka mampu menolong orang-orang miskin itu. Dengan kata lain, mereka berangkat dengan niat buruk dan mengira bahwa mereka akan mampu melaksanakan tekad mereka [25].
Tetapi tatkala mereka melihat keadaan kebun mereka jauh berbeda dengan apa yang mereka harapkan, yakni setelah kebun itu ditimpa bencana mereka berkata: “Sungguh kita sesat jalan.” Yakni “Ini bukan arah kebun kita” [26].
Tetapi setelah mereka yakin bahwa memang itu kebun mereka, hanya keadaannya telah berubah akibat bencana yang menimpanya, mereka semua mengakui bahwa: “Kita tidak sesat jalan, bahkan kita dihalangi dari perolehan hasilnya” [27].
Ketika itu juga berkatalah yang di tengah, yakni yang paling moderat dan baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepada kamu, bahwa rencana kamu itu tidaklah terpuji dan bahwa hendaklah atau mengapa kamu tidak bertasbih menyucikan Allah dan berucap Insya Allah?! [28].
Para pemilik kebun tersebut sadar, karena itu mereka berucap: “Mahasuci Tuhan Pemelihara kita, sesungguhnya kita dengan rencana buruk kita adalah orang-orang zalim yang mantap kezalimannya.” Mestinya kita bersyukur dengan hasil panen sambil memberi hak fakir miskin, tetapi justru kita melakukan sebaliknya [29].
Setelah mereka menyadari dampak buruk sikap mereka, maka sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela mencela [30].
Yakni ada yang berkata: “Ini karena saranmu”; yang lain berkata: “Engkau yang mendorong kami”; yang lain lagi berkata: “Memang aku telah menyampaikan”, dan sebagainya dan akhirnya mereka semua mengaku bersalah dan berkata: “Aduhai celakalah kita, sungguh kita adalah orang-orang yang melampaui batas,” yakni dengan bersumpah tidak akan memberi hasil panen kita kepada fakir miskin [31].
“Semoga Tuhan Pemelihara kita memberi kita ganti dengan kebun atau apa saja yang lebih baik daripada dari kebun yang binasa itu; sesungguhnya kita hanya kepada Tuhan Pemelihara dan Pembimbing kita selalu mengharap ampunan dan karunia-Nya [32].
Demikian kisah Pemilik Kebun yang diakhiri dengan pernyataan Allah swt. memperingatkan semua pihak, termasuk kaum musyrik Mekkah bahwa: Seperti itulah siksa duniawi dan sesungguhnya azab akhirat bagi para pembangkang lebih besar daripada siksa duniawi itu. Yakni, dia lebih besar karena siksa akhirat bersumber langsung dari Allah swt., serta tidak berakhir dengan kematian. Jika mereka, siapa pun yang kafir dan durhaka, mengetahui pastilah mereka itu sadar dan patuh kepada Allah swt. dan Rasul [33].
Langganan:
Postingan (Atom)