Azab yang akan dialami oleh orang-orang kafir yang mereka cemoohkan itu,
menurut ayat 8, akan terjadi pada hari ketika langit yang sehari-hari
terlihat demikian kokoh menjadi seperti luluhan perak atau kotoran
minyak [8].
Gunung-gunung yang demikian berat dan kuat
menancapkan bumi sehingga tidak oleng menjadi seperti bulu atau kapas
yang beterbangan, yakni setelah ia hancur berkeping-keping [9].
Ketika
itu tidak ada seorang teman akrab pun, apalagi yang tidak akrab,
menanyakan ihwal temannya karena mencekamnya situasi dan prihatinnya
setiap orang menghadapi nasibnya [10].
Jangan duga bahwa mereka
tidak menanyakan, karena mereka tidak saling melihat. Bukan! Mereka,
menurut ayat 11, saling melihat, tetapi semua sadar bahwa ketika itu
tidak berguna lagi bantuan teman dan kerabat. Pendurhaka, baik dia
Muslim maupun bukan, ingin jika seandainya dia dapat menebus dirinya
dari azab yang terjadi hari itu dengan menyerahkan semua anak-anaknya
[11], juga istri yang selalu menemaninya, serta saudaranya yang
merupakan darah dagingnya [12], bahkan termasuk juga kerabatnya yang
dalam kehidupan dunia senantiasa melindunginya [13].
Juga siapa
pun yang berada di bumi seluruhnya, baik dia kenal maupun tidak. Itu
semua, kalau bisa dia jadikan tebusan, maka dia akan menjadikannya
tebusan agar dapat menyelamatkannya [14].
Ayat 15 menafikan harapan si pendurhaka, bahkan menghardiknya dengan menyatakan: "Sekali-kali tidak dapat dan tidak akan ada tebusan. Sungguh neraka di mana mereka disiksa adalah api murni yang bergejolak" [15].
"Mengelupaskan kulit kepala, bahkan semua bagian kulith tubuh," [16].
Api
neraka atau penjaga-penjaganya senantiasa memanggil orang yang
membelakangi iman dan kebenaran dan yang berpaling dari ajakan Rasul
[17], juga yang mengumpulkan harta benda dan apa saja yang dapat
dikumpulkannya tanpa menghiraukan hukum dan ketentuan Allah swt, lalu
menyimpan apa yang dikumpulkannya itu di dalam satu wadah, yakni enggan
menafkahkannya di jalan Allah swt [18].
Inti sari kandungan ayat 19-28
Ayat-ayat
yang lalu menggambarkan keberpalingan manusia yang durhaka dari
kebenaran. Ayat-ayat berikut menggambarkan sebab yang mengantar mereka
ke sana. Ayat 19 menyatakan: "Sesungguhnya jenis manusia diciptakan bersifat gelisah dan rakus" [19].
Ini
tecermin pada sikapnya yang apabila ia ditimpa— walau
sedikit—kesusahan, ia sangat berkeluh kesah [20], dan apabila ia
mendapat kebaikan, seperti limpahan harta atau rezeki lainnya, ia amat
kikir [21], kecuali mereka yang melaksanakan shalat [22], Yakni yang
senantiasa melakukannya pada waktunya tanpa meninggalkan satu shalat pun
[23].
Juga orang-orang yang dalam harta mereka ada bagian
tertentu yang mereka peruntukan bagi orang-orang yang butuh, baik berupa
zakat maupun sedekah [24], baik yang butuh dan meminta, maupun yang
butuh tetapi enggan dan malu meminta [25].
Dan juga orang-orang
yang memercayai keniscayaan Hari Pembalasan sehingga mempersiapkan bekal
untuk itu [26]. Dan orang-orang yang sangat takut terhadap azab Tuhan
mereka [27]. Karena mereka sadar bahwa sungguh azab Tuhan Yang mereka
sembah dan yang selama ini berbuat baik terhadap mereka tidaklah dapat
diangap remeh sehingga merasa aman dari kemungkinan jatuhnya menimpa
mereka [28].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar