Ayat-ayat yang lalu mengukuhkan pernyataan ayat-ayat sebelumnya yang
menegaskan keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad saw, serta keberadaan
beliau dalam bimbingan dan petunjuk Allah swt. Karena itu, ayat-ayat
berikut menegaskan konsekuensi hal di atas dengan menyatakan: “Jika
demikian itu sifat dan keadaanmu, wahai Nabi Muhammad saw, maka
janganlah engkau mengikuti para pengingkar ayat-ayat Allah swt. [8].
Mereka
sangat menginginkan atau mereka berangan-angan jika seandainya engkau
bersikap lunak terhadap mereka, yakni tidak melarang mereka menyembah
berhala atau engkau merestui sebagian dari kedurhakaan mereka, lalu
mereka dengan sikap lunakmu itu bersikap lunak (pula) kepadamu [9].
Untuk
lebih mengukuhkan larangan tersebut, Allah swt menyifati mereka dengan
sifat-sifat buruk sambil mengulangi larangan-Nya dengan berfirman: Dan
janganlah engkau ikuti setiap penyumpah, yakni yang sedikit-sedikit
selalu bersumpah, lagi berkepribadian hina, yakni tidak berbudi pekerti
luhur [10],
Pencela, yakni banyak mencela pihak lain di belakang
mereka, Penyebar/Penghambur fitnah guna memecah belah anggota
masyarakat [11], lagi sangat gemar menghalangi terciptanya kebaikan,
atau sangat kikir, juga pelampau batas lagi pendurhaka, yakni banyak
dosa terhadap Allah swt dan sesama manusia [12] dan kasar. Selain itu,
yakni yang lebih buruk lagi adalah ia populer/dengan kejahatannya [13].
Sifat-sifat
yang disandangnya itu, menurut ayat 14, lahir karena dia adalah seorang
yang dikenal serta merasa diri sebagai pemilik banyak harta dan
anak-anak yang banyak lagi terpandang oleh masyaakatnya [14].
Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah swt, ia berkata: “Ini adalah dongeng-dongengan orang-orang
dahulu
kala” [15]. Sungguh bejat orang ini. Karena itu, ayat 16 memvonisnya
bahwa Kami/Allah swt akan menandainya di atas belalainya, yakni
hidungnya yang panjang [16].
Intisari Kandungan Surah Al Qalam Ayat 17-33
Ayat-ayat
berikut mengingatkan para pendurhaka penduduk Mekkah tentang ujian
Allah swt serupa dengan ujian yang dialami oleh pemilik kebun di Yaman,
yang kisahnya diuraikan oleh ayat-ayat berikut. Mereka adalah sekelompok
pemilik, yakni dua dari tiga orang di antara mereka bersumpah bahwa
mereka akan memetik hasil kebunnya di pagi hari, yakni agar fakir miskin
tidak melihatnya sekaligus tidak dapat meminta/ mengambilnya [17].
Dalam
saat yang sama, mereka juga tidak mengaitkan tekad mereka itu dengan
kehendak Allah swt. Mereka tidak berucap: Insya Allah swt, atau kalimat
apa pun yang menunjuk keterikatan upaya mereka dengan kehendak Allah
[18], maka akibatnya, kebun mereka ditimpa oleh bencana besar yang
bersumber dari Allah swt. Bencana itu datang ketika mereka sedang tidur
lelap [19].
Akibat bencana itu kebun mereka menjadi seperti abu yang hitam atau pohon yang telah gundul setelah dipetik semua buahnya [20].
Di
pagi harinya, sebelum mereka mengetahui apa yang terjadi pada kebun
mereka, mereka saling panggil-memanggil [21] agar segera berangkat ke
kebun mereka untuk memetiknya [22].
Mereka pun berangkat seraya
saling berbisik-bisik dan pesan memesan [23], bahwa: “Jangan biarkan
seorang miskin pun memasuki kebun itu” [24]. Demikian mereka berangkat
dengan tekad menghalangi orang-orang miskin, padahal mereka mampu
menolong orang-orang miskin itu. Dengan kata lain, mereka berangkat
dengan niat buruk dan mengira bahwa mereka akan mampu melaksanakan tekad
mereka [25].
Tetapi tatkala mereka melihat keadaan kebun mereka
jauh berbeda dengan apa yang mereka harapkan, yakni setelah kebun itu
ditimpa bencana mereka berkata: “Sungguh kita sesat jalan.” Yakni “Ini
bukan arah kebun kita” [26].
Tetapi setelah mereka yakin bahwa
memang itu kebun mereka, hanya keadaannya telah berubah akibat bencana
yang menimpanya, mereka semua mengakui bahwa: “Kita tidak sesat jalan,
bahkan kita dihalangi dari perolehan hasilnya” [27].
Ketika itu
juga berkatalah yang di tengah, yakni yang paling moderat dan baik
pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepada kamu,
bahwa rencana kamu itu tidaklah terpuji dan bahwa hendaklah atau
mengapa kamu tidak bertasbih menyucikan Allah dan berucap Insya Allah?!
[28].
Para pemilik kebun tersebut sadar, karena itu mereka
berucap: “Mahasuci Tuhan Pemelihara kita, sesungguhnya kita dengan
rencana buruk kita adalah orang-orang zalim yang mantap kezalimannya.”
Mestinya kita bersyukur dengan hasil panen sambil memberi hak fakir
miskin, tetapi justru kita melakukan sebaliknya [29].
Setelah
mereka menyadari dampak buruk sikap mereka, maka sebagian mereka
menghadapi sebagian yang lain seraya cela mencela [30].
Yakni
ada yang berkata: “Ini karena saranmu”; yang lain berkata: “Engkau yang
mendorong kami”; yang lain lagi berkata: “Memang aku telah
menyampaikan”, dan sebagainya dan akhirnya mereka semua mengaku bersalah
dan berkata: “Aduhai celakalah kita, sungguh kita adalah orang-orang
yang melampaui batas,” yakni dengan bersumpah tidak akan memberi hasil
panen kita kepada fakir miskin [31].
“Semoga Tuhan Pemelihara
kita memberi kita ganti dengan kebun atau apa saja yang lebih baik
daripada dari kebun yang binasa itu; sesungguhnya kita hanya kepada
Tuhan Pemelihara dan Pembimbing kita selalu mengharap ampunan dan
karunia-Nya [32].
Demikian kisah Pemilik Kebun yang diakhiri
dengan pernyataan Allah swt. memperingatkan semua pihak, termasuk kaum
musyrik Mekkah bahwa: Seperti itulah siksa duniawi dan sesungguhnya azab
akhirat bagi para pembangkang lebih besar daripada siksa duniawi itu.
Yakni, dia lebih besar karena siksa akhirat bersumber langsung dari
Allah swt., serta tidak berakhir dengan kematian. Jika mereka, siapa pun
yang kafir dan durhaka, mengetahui pastilah mereka itu sadar dan patuh
kepada Allah swt. dan Rasul [33].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar